Renungan: Puasa Bagi Anak Muda
Tulisan ini adalah draft yang saya buat untuk renungan bagi Ha Na'arim Parokia Tritunggal Mahakudus dalam sembahyang senja 6 Maret 2025.
Hari ini umat Orthodox memasuki Minggu Pertama dalam masa Puasa Agung Catur Dasa. Puasa ini bertujuan untuk menyiapkan kita dalam menyambut paskah. Sebagai seorang pemuda, masa puasa ketat seperti ini cukup berat untuk dijalani. Secara umum, sebagai pemuda pasti memiliki masalah yang harus dipikirkan, seperti pekerjaan, hubungan, atau pendidikan. Tentu saja puasa akan menambah beban kita yang tadinya sudah cukup banyak. Saya sendiri pernah mengalami, waktu pertama kali saya mencoba puasa, saya dimarahi klien dan diputuskan oleh pacar saya di waktu yang sama, dengan kondisi lapar dan haus.
Lalu, jika sudah tau puasa hanya menambah beban hidup, kenapa harus dilakukan? Dalam Teologi Orthodox, terdapat apa yang disebut asketis yang diambil dari bahasa Yunani, ἄσκησις, yang berarti berlatih. Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius mengatakan demikian: "Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:7-8 TB)
. Dan puasa adalah salah satu bentuk ibadah umat Orthodox.
Puasa adalah sarana untuk berlatih menjadi orang yang merdeka. Merdeka dari apa? Merdeka dari ikatan hawa nafsu kedagingan yang memicu dosa, karena dosa asalnya dari ketidak taatan. Dalam keadaan kita setelah terjatuh dalam dosa, kita meleset dari gambar Allah (Berfirmanlah Allah: ”Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” [Kejadian 1:26 TB]
). Maka dari itu dosa berasal dari bahasa Yunani ἁμαρτία yang berarti meleset. Puasa akan membantu kita untuk memulihkan kita, sehingga kita dapat ambil bagian dalam kodrat ilahi (Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. [2 Petrus 1:4 TB]
).
Aturan dalam menjalankan puasa, di parokia saya biasanya adalah makan sekali sehari dengan tidak makan produk-produk hewani, kecuali hari Sabtu dan Minggu bisa makan ikan. Untuk pemuda-pemudi, biasanya hal ini akan menjadi berat, karena kadang kita masih hobi pilih-pilih makanan atau alasan-alasan lain. Biasanya akan timbul pertanyaan, yang kebetulan baru semalam ditanyakan oleh seorang kawan, bagaimana kalau kita dengan berbagai alasannya belum mampu untuk menjalankannya? Wajar saja, bagi orang yang tidak pernah berpuasa akan K.O. juga ketika dituntut bekerja atau belajar dengan performa tinggi, tiba-tiba menjalaninya dengan rasa lapar dan haus. Atau kadang orang berpikir, apakah dosa jika belum mampu menjalankan semuanya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama harus diketahui bahwa Kristen, terutama Orthodox adalah agama yang berdasarkan kasih karunia, bukan hukum. Kita diselamatkan oleh Kristus bukan karna kita bisa berpuasa ketat, tapi oleh kebaikan-Nya sehingga Dia menghendaki setiap orang diselamatkan (Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. [1 Timotius 2:3-4 TB]
). Dalam beberapa kasus, puasa ketat justru dapat memicu kesombongan, karena merasa hebat dan lebih saleh dari orang lain. Dalam synaxarion, Js Pimen Agung telah memperingatkan akan potensi kesombongan pada saat berpuasa: Biarlah seorang rahib makan sehari sekali. Hal itu lebih baik daripada puasa ekstrim, karena barang siapa yang menjalankan puasa panjang, biasanya akan menyombongkan diri. Kita tidak berpuasa untuk membunuh tubuh, tetapi keinginan kita.
Yang ke dua, perlu diketahui bahwa aturan-aturan puasa merupakan aturan yang diadopsi dari biara-biara. Tiap biara akan memiliki aturan yang berbeda. Misalnya biara yang terletak di daerah seperti Alaska akan sangat kesulitan jika hanya bergantung pada sayur-sayuran, maka aturan mereka akan memperbolehkan ikan. Terlebih ketika aturan biara ini diadopsi oleh orang awam, akan sangat sulit karna kita tidak terbiasa dan lingkungan kadang tidak semendukung lingkungan biara, yang tentu semuanya penghuninya memegang iman Orthodox.
Beberapa kondisi memang tidak memungkinkan kita untuk tidak menjalankan puasa ketat. Tetapi bukan berarti harus sepenuhnya tidak menjalankan puasa. Contohnya seperti:
Js Spiridon, Episkop Tremithus pernah suatu hari dihampiri oleh seorang pengembara. Tentu saja pada zaman itu, seorang pengembara biasanya melakukan perjalanan dengan jalan atau naik transportasi tradisional yang melelahkan dan memakan banyak waktu. Beliau tidak mempunyai makanan untuk disuguhkan selain babi. Pada waktu itu sedang masa Puasa Agung Catur Dasa, dan si pengembara menolak untuk makan karna sedang berpuasa. Tetapi Js Spiridon berkata, “Kamu memiliki alasan untuk makan. Seperti Rasul Paulus berkata, ‘Bagi orang suci, semuanya suci (Titus 1:15 TB)’.
Di Orthodox, dalam hal berpuasa, kita tidak terikat secara hukum. Akan sangat baik jika kita dapat melaksanakan sesuai aturan yang ketat, tetapi jika tidak, sebisa mungkin diniatkan tetap berpuasa dengan penyesuaian-penyesuaian tertentu. Selama itu bukan didasari oleh kemalasan atau hawa nafsu kita. Karena pada dasarnya puasa adalah latihan untuk tidak meleset. Jadi jangan pandang puasa sebagai hal yang dosa jika tidak dilakukan dan ada upah ketika dilakukan, tetapi bayangkan seperti atlet memanah, yang punya waktu panjang untuk berlatih tetapi memilih bermalas-malasan, maka saat hari pertandingan pasti akan lebih sering meleset dari sasaran.