Gereja Orthodox Solo: Sejarah Gereja Orthodox Timur Pertama di Indonesia

Jum, 23 Januari 2026 - 5 min read
Penyerahan IMB Gereja Orthodox Tritunggal Mahakudus di Kantor Golkar Surakarta.
Penyerahan IMB Gereja Orthodox Tritunggal Mahakudus di Kantor Golkar Surakarta.

Catatan

Tulisan ini sebenarnya adalah salah satu bahan yang saya buat untuk keperluan lomba karya tulis yand diadakan oleh @neochristposting. Namun sekarang digunakan juga sebagai bahan beberapa dokumen untuk keperluan Gereja. Draft ini akhirnya saya publish karena sayang jika dibuang. Hasil yang sudah diproses oleh teman saya Cosmas Ariel Suryo sudah dipublish dan bisa dilihat di sini:

View this post on Instagram

Ada juga post instagram yang berbasis tulisan ini, yang dibuat untuk menjelaskan sejarah Gereja:

View this post on Instagram

Gereja Orthodox Solo: Sejarah Gereja Orthodox Timur Pertama di Indonesia

Romo Protopresbyter Alexios dengan Phelonion Batik khas Indonesia. Sumber: Facebook Tritunggal Mahakudus Solo
Romo Protopresbyter Alexios dengan Phelonion Batik khas Indonesia. Sumber: Facebook Tritunggal Mahakudus Solo

Gereja Orthodox Solo, yang didedikasikan kepada Sang Tritunggal Mahakudus adalah bangunan Gereja Orthodox Timur pertama di Indonesia pada masa modern. Dibangun pada tahun 1996, bangunan ini tidak lepas dari karya pelayanan seorang Presbyter putra Indonesia pertama, Romo Daniel Bambang Dwi Byantoro. Pada tahun 1988, Romo Daniel, di bawah perlindungan Episkop Maximos dari Pittsburg, kembali dari Amerika Serikat ke Indonesia dengan membawa visi besar: mendirikan Gereja Orthodox yang tidak hanya menjadi cabang dari yuridiksi negara lain, tetapi yang benar-benar mencerminkan ke-Indonesiaan, baik dari segi pemimpin maupun konteks budaya, tanpa mengubah substansi ajarannya.

Liturgi Suci di rumah Romo Daniel di Perumahan Dosen, Baturan, Solo.
Liturgi Suci di rumah Romo Daniel di Perumahan Dosen, Baturan, Solo.

Visi ini bukan hanya sekedar angan-angan. Romo Daniel harus menghadapi tantangan yang berat dalam memperkenalkan ajaran Rasuliah ini kepada masyarakat Indonesia. Di masa awal pelayanan ini, mayoritas dari masyarakat lebih familiar dengan tradisi Kekristenan Barat, sehingga tidak mengenal adanya Gereja Timur. Sehingga, sebagai satu-satunya penganut iman Orthodox pada saat itu, Romo Daniel harus bekerja keras untuk mengenalkan iman Orthodox ke berbagai kelompok. Salah satu kelompok yang dijangkau oleh Romo Daniel adalah Persekutuan Doa Siloam, sebuah persekutuan doa kharismatik yang ia dirikan sebelum melanjutkan studinya ke Korea Selatan. Di persekutuan doa itu juga, beliau bertemu dengan Setir Cahyadi, yang kemudian menjadi salah satu pendukung paling penting bagi misi Orthodox di Indonesia.

Romo Daniel sedang memberikan homili di Gedung Gereja yang statusnya masih menyewa.
Romo Daniel sedang memberikan homili di Gedung Gereja yang statusnya masih menyewa.

Pada tahun 1988, gedung Gereja Orthodox Solo belum bisa langsung dibangun. Selama periode awal tersebut, umat beribadah di rumah Romo Daniel di Perumahan Dosen, Baturan, tepatnya di ruangan tengah dari rumah itu. Setelah sekitar tiga sampai empat tahun, gereja berpindah ke tempat milik Bapak Marto Wiyono di Jl. Pajajaran Barat, Sumber, yang pada awalnya disewa, sebelum kemudian dapat dibeli. Pembelian tanah ini salah satunya dibantu oleh Mayor Jenderal TNI Pranowo.

Penyerahan IMB Gereja Orthodox Tritunggal Mahakudus di Kantor Golkar Surakarta.
Penyerahan IMB Gereja Orthodox Tritunggal Mahakudus di Kantor Golkar Surakarta.

Proses pembangunan gedung Gereja yang permanen pun dimulai setelah mendapatkan Surat Izin Mendirikan Bangunan pada tahun 1995 dengan nomor 601/097/Pi/I/95, dan selesai pada tahun 1996. Pada proses pembangunan ini, kegiatan peribadahan dialihkan sementara ke rumah dr. Lukas Adisucipto di Gremet, Manahan. Pada 15 Mei 2002 gedung ini dikonsekrasi oleh Metropolitan Nikitas dari Hongkong. Pada proses konsekrasi ini, altar Gereja ditanam dengan relik suci dari Janasuci Cosmas dan Janasuci Damianos, saudara kembar dari kota Efesus yang hidup pada abad ke tiga. Mereka dikenal sebagai tabib yang mengobati orang sakit tanpa meminta imbalan. Selain saudara kembar tadi, ada juga Janasuci Paraskeva, yang merupakan orang kudus pada abad ke dua, yang menjadi martir di Tarasius karena mengabarkan tentang Kristus dan menolak menyembah berhala pagan. Penanaman relik dari orang-orang kudus ini menurut Janasuci Germanus I, Patriarkh Konstantinopel (715 - 730) dimaksudkan sebagai pondasi penguat dari altar Gereja.

Pentahbisan Hypodiakon Alexios Setir Cahyadi oleh Metropolitan Dionysios dari Selandia Baru ke jenjang Diakon.
Pentahbisan Hypodiakon Alexios Setir Cahyadi oleh Metropolitan Dionysios dari Selandia Baru ke jenjang Diakon.

Untuk memperluas dan meningkatkan pelayanan Gereja, pada kunjungan Metropolitan Dionysios dari Selandia Baru yang didampingi oleh Akrhimandrit Soterios Trambas pada tahun 1992, tiga orang umat ditahbiskan sebagai Diakon, yaitu Alexios Setir Cahyadi, Methodius Sri Gunarjo, dan Panteleimon Sukamto. Pada tahun 1996, Romo Diakon Alexios Setir Cahyadi dan Romo Diakon Methodius Sri Gunarjo dikirimkan ke sebuah seminari Orthodox, St. Nicholas di Korea Selatan untuk melanjutkan pendidikan mereka, dan keduanya ditahbiskan menjadi Presbyter oleh Metropolitan Dionysios dari Selandia Baru pada Februari 1997.

Di tahun yang sama, Romo Daniel, yang pada tahun 1994 telah diangkat menjadi Arkhimandrit oleh Metropolitan Dionysios, harus berpindah pelayanan ke kota Jakarta. Kepindahan ini disebabkan oleh perpisahan dengan dua Anagnostis, yaitu Damaskinos Yusuf Roni dan Barnabas Bambang Noorsena, yang sebelumnya ditugaskan mengelola komunitas Orthodox di Jakarta. Ketika di komunitas tersebut kehilangan pemimpin, posisi tersebut perlu segera diisi, mengingat kota Jakarta sangat strategis bagi perkembangan misi Orthodox di Indonesia. Komunitas inilah yang kemudian berkembang menjadi Parokia Epifani Suci di Kalimalang, yang bertempat di kediaman Theodoros Roy Marten.

Romo Protopresbyter Alexios Setir Cahyadi mengangkat Aer sebagai simbol turunya Roh Kudus saat pembacaan Pengakuan Iman Nikea-Konstantinopel.
Romo Protopresbyter Alexios Setir Cahyadi mengangkat Aer sebagai simbol turunya Roh Kudus saat pembacaan Pengakuan Iman Nikea-Konstantinopel.

Setelah Arkhimandrit Daniel harus berpindah tugas ke Jakarta pada tahun 1997, Romo Alexios ditunjuk untuk menggantikan beliau sebagai Romo Paroki Tritunggal Mahakudus hingga sekarang. Dalam Pelayanannya, Romo Alexios dibantu oleh Romo Diakon Makarios Rudyo Mursanto, yang ditahbiskan pada 17 Februari 2006 oleh Episkop Agung Hilarion dari Sydney dan Selandia Baru. Setahun kemudian, pada Desember 2007, Romo Diakon Lukas Adisucipto juga ditahbiskan oleh Episkop Agung Hilarion untuk membantu pelayanan. Namun Romo Diakon Lukas kemudian meninggal dunia.

Untuk meningkatkan kapasitas pelayanan, Romo Diakon Makarios kemudian ditahbiskan sebagai Presbyter oleh Uskup George dari Canberra. Sayangnya, pada tahun 2021, Romo Makarios berpulang karena sakit, meninggalkan keluarga dan umat, terutama kawula muda yang sangat mencintainya. Hal ini karena organisasi pemuda Orthodox, Ha Na’Arim, dibina oleh beliau.

Referensi:

  1. Dokumen Gereja: Sejarah Singkat Gereja Orthodox Indonesia (GOI), Profil Arkhimandrit Rm. Daniel B.D. Byantoro, Pendiri dan Ketua Umum GOI serta Sejarah GOI di Minahasa. Disusun oleh Arkhimandrit Rm Daniel Byantoro.
  2. Wawancara dengan Protopresbyter Alexios Setir Cahyadi.
  3. Wawancara dengan Hypodiakon Christophoros Endra Soemantri.
  4. A Monk of St. Tikhon’s Monastery. (1986). These Truths We Hold - The Holy Orthodox Church: Her LIfe and Teachings. South Canaan: St. Tikhon’s Seminary Press.
  5. Farley, Lawrence. (2018). A Daily Calendar of Saints: A Synaxarion for Today’s North American Church. Chestertown: Ancient Faith Publishing.